Jumat, 09 Maret 2012

Seorang Pemuda


Pada suatu ketika, hiduplah seorang pemuda. Pemuda itu sangat gagah. Pemuda itu mempunyai kegiatan sehari - hari sebagai pemancing. Dia mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dari alat pancingnya itu. Dia menjual ikan hasil pancingannya ke kota, dan membeli beberapa kebutuhan hidupnya di kota. Beberapa ikan lainnya disimpan untuk makanan sehari - harinya. Bisa dibilang, itu adalah alat pancing yang sangat berharga bagi dirinya. Dia memancing di danau depan rumahnya. Rumahnya terbuat dari kayu. Sang pemuda itu sangat sederhana. Dia hanya hidup sendiri.Tidak ada orang yang hidup di daerah sekitar rumahnya.

Tiba - tiba, datanglah segerombolan bandit yang menunggangi kuda. Mereka datang menghampiri rumah sang pemuda. "Hai anak muda, kau harus pergi dari sini ! Kami ingin menguasai tempat ini !". Itulah kata - kata dari ketua bandit tersebut. Karena disana sang pemuda hanya hidup seorang diri, ketua bandit berpikir akan beruntungnya mereka jika bisa menguasai seluruh wilayah sekitar danau tersebut. Sehingga, gerombolan bandit yang berjumlah empat dan satu ketua (5 orang) itu berniat menyerang sang pemuda karena sang pemuda tidak mau angkat kaki dari daerah yang ditempatinya. Sang pemuda masuk kedalam rumahnya. Di rumahnya, dia mengambil pedang miliknya dan berusaha untuk melindungi diri. Kemudian, datanglah para bandit itu kedalam rumah sang pemuda. Ternyata, sang pemuda sangat lihai memainkan pedang. Dengan seketika, para bandit tersebut langsung lari terbirit - birit dengan kudanya.

Setelah para bandit itu pergi, datanglah seorang gadis pengembara nan cantik. Penampilannya sungguh menarik perhatian. Seperti bidadari dari langit. Sang gadis lalu menghampiri rumah sang pemuda. Sang pemuda terpikat dengan kecantikan sang gadis dan langsung jatuh hati. Lalu, sang pemuda mempersilahkan sang gadis untuk masuk ke dalam rumahnya. Mereka pun berbincang - bincang di dalam rumah sang pemuda. Lalu, sang gadis melihat sebuah alat pancing. Alat pancing tersebut terlihat sangat menarik. Lalu, sang gadis meminta alat pancing milik sang pemuda itu. Karena sudah sangat terpikat oleh kecantikan sang gadis, tanpa pikir panjang sang pemuda memberikan alat pancingnya tersebut. Setelah mendapat alat pancing milik sang pemuda, sang gadis pun langsung meninggalkan rumah sang pemuda karena ingin melanjutkan perjalanannya.

Berbulan - bulan telah berlalu semenjak kedatangan sang gadis. Keadaan sang pemuda sangat berbeda. Tidak lagi terlihat gagah. Dia tidak pernah lagi menyantap ikan hasil pancingannya yang baik bagi kesehatannya. Sang pemuda terlihat sangat lemas.

Tak jauh dari sana, ketua bandit itu sedang menyendiri dari rekan - rekannya. Dia sedang memikirkan cara untuk mengalahkan sang pemuda yang tinggal di dekat danau dan menguasai daerah sekitar danau. Tiba - tiba, datanglah gadis pengembara. Dia pun melakukan semacam kerja sama yang licik. Sang ketua bandit menawarkan sang gadis pengembara untuk bergabung dengannya dan menjebak sang pemuda. Karena tertarik dengan semua yang dikatakan oleh sang ketua, sang gadis pengembara pun menyetujui tawaran sang ketua bandit.

Lalu, para bandit dan gadis pengembara pun datang menghampiri rumah sang pemuda. "Mau apa kau datang kemari ?" , tanya sang pemuda. "Bukankah aku sudah mengalahkan kalian semua waktu itu ?". Lalu, sang ketua bandit pun menjawab, "Kali ini aku membawa sandera. Hahaha, kenalkah dirimu dengan gadis ini ? Jika kau tidak mau pergi dari sini, gadis ini akan kubunuh !".  Lalu, pemuda itu sangat bingung. Karena dirinya sudah jatuh hati terhadap sang gadis pengembara itu, dia pun tidak bisa berkutik. Dia langsung meninggalkan rumahnya dan berkata, "Baiklah, aku akan pergi. Tetapi lepaskan gadis itu ! Dia tidak bersalah !". Sang ketua bandit pun langsung melepaskan sang gadis ketika sang pemuda sudah jauh dari rumahnya. Namun, karena takut terhadap pemuda itu, sang ketua bandit menyuruh sang gadis untuk membunuhnya. Lalu, sang gadis pun berlari ke arah pemuda itu. Dia menangis di pelukan sang pemuda. Namun, tiba - tiba sang gadis pengembara itu menusuk perut sang pemuda dengan pisau. Seketika itu, sang pemuda pun jatuh tersungkur. Dan, sang pemuda berkata, "Ternyata, dirimu hanya seorang penipu ! Padahal, diriku sudah sangat mencintai dan menyayangi dirimu. Apapun yang kau minta pasti akan kuberi. Kau meminta alat pancingku, langsung kuberikan padamu. Namun, apa daya. Kau malah lebih memilih bergabung dengan segerombolan bandit itu hanya demi menguasai kekayaan alam di sekitar danau. Ternyata, aku salah besar telah menilaimu secara fisik. Fisikmu boleh indah, tetapi didalam tubuhmu tersimpan banyak sekali kebusukkan ! Camkanlah semua kata - kata ku ini ! Kau akan menyesal telah melakukan hal ini ! Aku menyesal telah mengenalmu !". Setelah berkata demikian, sang pemuda pun menghembuskan nafas terakhirnya. Sang gadis pengembara yang mendengar langsung ucapan - ucapan sang pemuda, sangat menyesal. Dia menyesal telah bergabung dengan bandit. Dia pun berlari ke dalam hutan setelah membunuh sang pemuda. Sang gadis pun hidup dalam suasana menyesal dan akhirnya dia mati bunuh diri menggantung di pohon beringin.

0 komentar:

Posting Komentar


My Twetts Twitter

 

Copyright © World Blog's Design by Ivander Svega Silitonga | Blogger Theme by IvanderDesigner | Powered by Huye!!