Senin, 08 Juni 2015

Seorang Nenek Yang Sengsara.

1 komentar

Nenek  tua itu tertatih-tatih perlahan mulai meninggalkan warung dekat persimpangan jalan itu. Mengemis. Perbuatan yang dulu sering ia laknat itu, sepertinya kini mulai akrab berkawan dengan kesehariannya. Kesendirianlah yang memperkenalkan pekerjaan terhina itu padanya. Tangannya kini telah terlatih untuk selalu menengadah dan meminta-minta. Walaupun begitu, terkadang masih teringat jelas di ingatannya bahwa dia pernah sekali mempunyai rumah yang bagus, keluarga yang hangat, dan makanan yang melimpah setiap hari. Dan kalau sudah begitu, pasti air hangat akan mulai menetes dari kedua matanya yang berkeriput.

Padahal hari ini adalah bulan puasa. Tapi Nenek tua itu seperti mengabaikannya, dan tetap menjajaki es teh dan sebuah gorengan  di pinggir jalan. Setidaknya untuk siang itu, hanya itulah pengisi lapar dan dahaganya. Tak pernah sedikitpun terbersit di pikarannya untuk mencoba berpuasa barang hanya satu hari. “Ah, percuma saja” Pikirnya, “Kurasa dosa-dosa yang telah kulakukan telah mengerak lama di hatiku. Mana mungkin puasa dapat merubah segalanya?”. Dan semenjak tiga tahun yang lalu, hanya pikiran itulah yang menjadi satu-satunya alasan untuknya tidak menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim untuk berpuasa. Ah, namun begitu, ia masih tak lupa menunaikan salat lima waktu. Hatinya tak bisa mengingkari ibadah yang satu itu. Setidaknya, wanita yang berdosa itu masih mengharapkan betapa indahnya surga nanti yang akan dia nikmati kelak di hari akhir nanti.
Dia tahu bahwa seminggu lagi, hari raya akan tiba. Orang-orang akan mulai sibuk merindukan tanah kelahirannya. Jalan–jalan akan sepi senyap sejenak dan lapangan–lapangan akan ramai  bertabur sajadah indah berwarna-warni. Anak-anak kecilpun akan sibuk memamerkan baju barunya. Terkadang mereka mulai berebutan sekedar untuk menyalami tangan kedua orang tuanya sembari meminta maaf. Dia tahu bahwa semua tradisi menjelang hari raya itu akan kembali berputar disekitanya. Namun masih seperti tiga tahun yang lalu, sepertinya nenek tua itu tak akan ikut meramaikan hari nan suci itu. Dia punya tanah kelahiran, dia punya anak–anak yang sudah sukses, dan dia punya cucu–cucu yang lucu. Namun satu yang membuatnya tidak lengkap, adalah mereka semua tidak mengetahui dimana keberadaan sang nenek tua itu.
Semua berawal dari suatu pagi. “Sholeh…Sholeh…Heran aku sama kamu.” Kata Nenek tua. “Lihat! Betapa melaratnya hidupmu itu sekarang! Sudah hidup dengan perempuan mandul itu, sekarang, berani-baraninya Kau datang kerumahku untuk meminjam uang, ha?” Teriaknya tambah menjadi-jadi.
Sebenarnya Nenek tua itu hanya mempunyai dua anak perempuan. Namun karena keinginannya menginginkan seorang anak laki-laki lah yang membuatnya ingin mengangkat seorang anak laki-laki. Anak lelaki itu bernama Sholeh. Walaupun dia sangat disayang oleh Ibunya, tak pernah sedikitpun ia manja pada kedua orangtuanya.  Dia selalu berusaha mandiri dan tidak merepotkan orang lain.
Hingga ketika umur 27 tahun, Sholeh memberanikan diri melamar seorang gadis bernama Yuli. Gadis muslimah itu baik, sopan dan ramah. Pernikahan itu berjalan dengan mulus seiring dengan restu dari orangtua dari kedua belah pihak. Dan selama pernikahan, mereka tetap tinggal dirumah Nenek Tua itu. Dan selama dirumah Nenek Tua itu, Yuli lah yang selalu dengan telaten merawat dan melayannya. Namun begitu, nyatanya kekesalan nenek tua itu sudah tak terbendung lagi. Semua berawal ketika sholeh memberitahukan kabar buruk bahwa ternyata Yuli tak dapat memberikannya keturunan. Nenek tua itu begitu terpukul. Anak-anak perempuannya yang tak kunjung menikah membuat nenek tua itu begitu mendambakan kehadiran seorang cucu dari Sholeh.
Awalnya Nenek Tua itu menerima saja kenyataan pahit itu. Dia berusaha sabar, dan tabah menerima qadar yang telah diberikan allah. Namun ternyata kesabarannya tak berhenti diuji sampai disitu. Sholeh dipecat dari perusahaannya karena bangkrut. Kini dia menggantungkan hidupnya hanya dari gerai warnet yang telah ia rintis sejak kuliah dulu. Hal itulah yang membuat kesabaran sang Ibu lama-kelamaan mulai menipis. Rasa sayangnya kini telah luntur. Kata-kata sayang yang terlontar kini mulai tergantikan dengan kata-kata sumpah serapah. Baginya, predikat perempuan mandul dan pembawa sial kini makin melekat. Dan sebagai puncaknya, Nenek Tua itu tega mengusir Sholeh dan Yuli dari rumahnya. Dia tak ingin mempedulikan bagaimana mereka hidup, atau sekedar memikirkan bagaimana nasib mereka nantinya. Dimatanya mereka berdua hanya akan mempermalukan nama baiknya, dan untuk itulah Dia perlu mengusir mereka. Akhirnya hiduplah Nenek Tua itu hanya dengan suami, dan dua anak perempuannya.
Namun allah maha adil. Lima tahun kemudian, setelah semua anak perempuannya berhasil menikah, Suami Nenek Tua itu dipanggil yang maha kuasa. Bukan hanya warisan yang ditinggalkan untuknya, namun juga hutang yang menumpuk. Nenek tua itu bangkrut. Dan kini ia mulai menggantungkan hidup dari anak-anak perempuannya. Walaupun anak-anaknya berusaha sepenuh hati merawat Nenek Tua itu, namun nyatanya, kebiasaan mengeluh Nenek tua tak pernah hilang. Tanpa bosan dia mengomentari dan mencampuri rumah tangga anak-anak perempuannya. Sehingga tak jarang pertengkaran sering dipicu oleh dirinya sendiri. “Kalian memang bukan anak-anakku!” Teriaknya suatu hari. “Bahkan Yuli, menantuku yang mandul itu masih lebih baik memperlakukanku!”. Akhirnya dia minggat dari rumah. Dengan sombong, dan tanpa malu, Nenek Tua itu ingin “kembali” kepada Sholeh, anak lelaki satu-satunya, dan Yuli istrinya yang sungguh-sungguh mencintainya melebihi anak kandungnya sendiri.
“Ah, untunglah Sholeh dan istrinya sekarang sudah melarat.” Pikirnya dalam hati. “Jadi mereka pasti akan iba ketika melihatku yang seperti gelandangan ini ”. Namun ternyata perkiraannya salah. Nenek tua itu begitu terkejut ketika Dia telah menemukan rumah anaknya, Sholeh. Rumahnya kini begitu megah, bahkan melebihi rumahnya yang ia bangga-banggakan  dulu. Padahal dia selalu berpikir bahwa Sholeh dan Yuli selama ini tinggal di gubuk kecil danreot.Dia tak menyangka, lima tahun dia telah mencampakkan anaknya, namun kini anaknya telah begitu sukses. Diapun akhirnya mengurungkan niatnya untuk memasuki rumah anaknya sendiri. Dia begitu terpukul dan malu mengakui kesalahannya selama ini. Yang bisa dia lakukan hanyalah mondar-mandir menyusuri jalan, tak tau arah kemana yang akan dituju. Hingga sampailah dia pada suatu warung, dan idmengemis itu mulai merasuki pikirannya.
Read full post »

My Twetts Twitter

 

Copyright © World Blog's Design by Ivander Svega Silitonga | Blogger Theme by IvanderDesigner | Powered by Huye!!